ARSIP

LAJU DIGESTI PADA IKAN LELE

(Clarias batracus)

 

Oleh

Nama : Apriana Titik

NIM : B1J006145

Kelompok : 2

Rombongan : I

Asisten : Faizul

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

 

 

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2008

 

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel Pengamatan Laju Digesti Ikan Lele (Clarias batracus)

Kelompok

Bobot Lambung (g)

15 menit

30 menit

60 menit

II

1,19

1,49

1,40

 

Perhitungan :

Bobot 15 menit = 1,19 g

Bobot 30 menit = 1,49 g / 1,19 x 100 % = 125,21 %

Bobot 60 menit = 1,40 g / 1,19 x 100 % = 117,64 %

B. Pembahasan

Digesti merupakan proses pemecahan zat makanan yang komplek menjadi zat yang lebih sederhana. Proses digesti memerlukan waktu dalam mencernkan makanannya, dan waktu yang diperlukan untuk mencernakan makanan itu disebut laju digesti. Pakan yang dikonsumsi oleh ikan akan mengalami proses digesti didalam sistem pencernaan sebelum nutrisi pakan tersebut diabsorpsi yang akan dimanfaatkan unyuk proses biologis pada tubuh ikan. Proses digesti pada sistem pencernaan ikan tersebut akan melibatkan enzim-enzim pencernaan yang dihasilkan oleh tubuh. Hasil proses digesti tersebut berupa asam amino, asam lemak, dan monosakarida yang akan diabsorpsi oleh epitel intestin kemudian disebarkan keseluruh tubuh oleh sistem sirkulasi (Kay,1998). Digesti adalah proses pemecahan zat makanan yang komplek menjadi zat yang lebih sederhana. Proses digesti memerlukan waktu dalam mencernakan makanannya, dan waktu yang diperlukan untuk mencernakan makanan itu disebut laju digesti (Santoso, 1994).

Pencernaan merupakan proses yang berlangsung terus-menerus. Bermula setelah pengambilan makanan dan berakhir dengan pembuangan sisa makanan. Sistem pencernaan makanan Ikan Lele (Clarias sp.) dimulai dari mulut, rongga mulut, faring, esophagus, lambung, pylorus, usus, rektum, dan anus. Struktur anatomi mulut ikan erat kaitannya dengan cara mendapatkan makanan. Sungut terdapat di sekitar mulut lele yang berperan sebagai alat peraba atau pendeteksi makanan dan ini terdapat pada ikan yang aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal). Rongga mulut pada ikan lele diselaputi sel-sel penghasil lendir yang mempermudah jalannnya makanan ke segmen berikutnya, juga terdapat organ pengecap yang berfungsi menyeleksi makanan. Faring pada ikan (filter feeder) berfungsi untuk menyaring makanan, karena insang mengarah pada faring maka material bukan makanan akan dibuang melalui celah insang (Fujaya, 2002).

Ikan lele (Clarias batracus) mempunyai lambung yang panjang, menunjukkan ikan ini termasuk ke dalam hewan herbivore. Ciri dari hewan herbivore yaitu mempunyai usus yang panjang dan menggulung. Hal ini dibuktikan dalam pembedahan. Proses laju digesti dapat disebut pola dengan proses laju pengosongan lambung. Pengamatan dengan mengamati bobot lambung ikan lele dengan ukuran waktu selama 15, 30 , 60 menit.

Makanan diperlukan untuk menghasilakan energi sebagai bahan pembentuk tubuh, metabolisme dasar, pergerakan, produksi organ seksual, perawatan bagian-bagian tubuh, penambah cairan tubuh, mengganti sel-sel tubuh yang rusak dan membantu proses faal lian yang berlangsung didalam tubuh. Zat-zat gizi yang dibutuhkan adalah protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan air. Protein merupakan sumber tenaga yang paling utama. Mutu protein dipengaruhi oleh sumber asalnya serta oleh kandungan asam aminonya. Protein nabati ( asal tumbuh-tumbuhan) lebih sukar dicerna daripada protein hewani (asal hewan). Hal itu disebabkan karena protein nabati terbungkus di dalam dinding seluloseyang memang sukar dicerna. Selain itu, kandungan asam amino esensial dari protein nabati pada umumnya kurang lengkap dibandingkan asam amino hewani. Lemak dalam makanan mempunyai peranan yang sangat penting sebagi sumber tenaga. Namun bagi ikan, lemak sebagai sumber tenaga kedua sesudah protein. Karbohidrat (hidrat arang, zat tepung, atau zat pati) ini berasal dari bahan makanan nabati dan makromolekul ini merupakan sumber tenaga terakhir yang diperlukan hewan. Vitamin adalah senyawa organik yang sangat penting peranannya dalam kehidupan ikan. Walaupun tidak merupakan sumber tenaga, tetapi vitamin dibutuhkan sebagai katalisator (pemacu) terjadinnya proses metabolisme didalam tubuh. Jumlah yang sangat dibutuhkan hanya sedikit, tetapi jika kekurangan dapat mengakibatkan terjadinya gangguan dan penyakit. Mineral adalah bahan organik yang dibutuhkan oleh ikan untuk pembentukan jaringan tubuh, proses metabolisme, dan mempertahankan keseimbangan osmotis. Selain itu, juga dibutuhkan air terutama untuk berlangsungnya proses metabolisme dan pembentukan cairan tubuh. Jumlah air yang diperlukan dapat ditentukan dengan pasti oleh masing-masing ikan (Mujiman, 1984).

Berdasarkan hasil praktikum diperoleh data perbandingan bobot lambung pada Ikan Lele yang sebelumnya diberi makan berupa pelet pada waktu 15 menit, 30 menit, dan 60 menit. Hasil pengamatan dari kelompok 2 menunjukkan angka 1,19 gr; 1,49 gr; dan 1,40 gr. Hal ini berari bahwa laju pengosongan lambung pada ikan memerlukan waktu selama 15 menit karena pada 15 menit pertama isi lambung masih 100%, kemudian 15 menit kedua isi lambung sudah bertambah menjadi 1,49 gr.sedangkan setelah 60 menit bobot lambungnya berkurang menjadi 1,4 g. Hal ini berarti bahwa pada Ikan Lele untuk mencernakan makanannya membutuhkan waktu sekitar 15 menit (Santoso, 1994).

Menurut Mujiman (1984) laju pengosongan laju digesti dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya temperatur lingkungan, dan kualitas pakan. Selain itu faktor-faktor kimia yang terdapat dalam perairan yaitu, kandungan O2, CO2, H2S, pH dan Alkalinitas. Biasanya semakin banyak aktivitas ikan, maka akan semaikin banyak membutuhkan energi sehingga proses metabolismenya tinggi dan membutuhkan makanan yang mutunya jauh lebih baik dan lebih banyak jumlahnya.

Penelitian yang berjudul ”Pencernaan, Perkembangan dan Manfaat Nutrisi Salmon atlantic parr (Salmo salar L.) dalam Hubunganya dengan Temperature, Kandungan Kaya lemak dan Sumber Minyak” berisi tentang pengaruh faktor-faktor tersebut dimana ikan jarang berada pada air jernih 2 atau 8º C selama 6 bulan di lingkaran terang/gelap 12h : 12h., formula dari makanan dan minyak di level perhitungan tinggi rendah memberikan 340 g kg-1 lemak, 400 g kg-1 protein atau 210 g kg-1 lemak, 510 g kg protein-1, ikan akan memiliki bobot tubuh dua kali lipatnya jika dipelihara ± 6 bulan pada temperature rendah (Bendiksen at al.,2002).

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

1. Laju digesti adalah waktu yang diperlukan oleh ikan untuk mencerna makanan dan mengosongkan lambungnya.

2. Laju digesti pada Ikan Lele (Clarias batracus) adalah 15 menit.

3. Faktor yang mempengaruhi laju digesti pada ikan adalah temperatur lingkungan dan kualitas pakan yang diberikan.

  

DAFTAR REFERENSI

Bendiksen, et al. 2003. Digestibility, Growth and Nutrient Utilisation of Atlantic Salmon Parr (Salmo salar L.) in Relation to Temperature, Feed Fat Content and Oil Source. Aquaculture, 224:283-299.

 Fujaya, Y. 2002. Fisiologi Ikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Nasional, Makasar.

 Kay, I. 1998. Inttoduction to Animal Physiology. Bios Scientific Publiher Limited, Spinger-Verlag New York. USA.

 Mujiman, A. 1984. Makanan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta.

 Santoso, B. 1994. Petunjuk Praktis Budidaya Lele Dumbo dan Lokal. Kanisius, Yogyakarta.

 

 

PENGUKURAN KONSUMSI OKSIGEN IKAN NILA

(Oreochomis sp.)

Oleh :

Nama         : Apriana Titik

NIM        : B1J006145

Kelompok        : 2

Rombongan : I

Asisten         : Faizul

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2008

 

 

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Data Pengukuran Konsumsi Oksigen

Kelompok

Berat ikan (gr)

Volume ikan (ml)

KO2 (mg/g/jam)

Ket.

I & II

15,9

15

1,5993

Nila

Ota= 5,4 ml

Otak= 4,2 ml

KO2  = 1,5993 mg/g/jam

Keterangan :

KO2 = konsumsi oksgen

Ota            = oksgen terlarut awal (mg/l)

Otak            = oksigen terlarut akhir (mg/l)

Bi            = berat ikan

Vol T            = volume tabung

Vol I            = volume ikan

WP             = waktu pengamatan (0,25 jam atau 15 menit)

 

A. Pembahasan

Oksigen merupakan unsur penting bagi kelangsungan hidup organisme. Oksigen dibutuhkan untuk proses oksidasi bahan-bahan makanan dalam tubuh hewan agar dihasilkan energi untuk aktivitas hidupnya. Energi berupa ATP yang prosesnya disebut metabolisme aerobik. Pengambilan oksigen untuk metabolisme dan pengeluaan CO2 sebagai sampah metabolic dilakukan dengan mekanisme yang menggunakan system respiratori (Kimball,1992).

Konsumsi oksigen pada setiap jenis ikan berbeda-beda. Menurut Djuhanda (1981), konsumsi oksigen dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti temperatur, ukuran tubuh, aktivitas yang dilakukannya. Hurkat dan Marthur (1976) menambahkan bahwa konsumsi oksigen pada tiap organisme berbeda-beda tergantung pada aktivitas, jenis kelamin, ukuran tubuh, temperatur dan hormon. Gordon (1972) juga menyebutkan faktor lain yang menyebabkan perbedaan konsumsi oksigen terlarut adalah nutrisi dan usia. Semakin besar bobot ikan maka semakin banyak pula konsumsi oksigennya., begitu juga sebaliknya. Semakin banyak konsumsi oksigen semakin besar laju metabolismenya. Hubungan bobot ikan dengan konsumsi oksigen berbanding lurus. Hubungan konsumsi oksigen dengan laju metabolisme juga berbanding lurus (Prosser, C. C. 1991).

Menurut Lagler (1977), konsumsi O2 dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :

1. Intensitas dari metabolisme oksidatif dalam sel.

2. Kecepatan pertukaran yang mengontrol perpindahan air disekitar insang yang berdifusi melewatinya.

3. Faktor internal yaitu kecepatan sirkulasi darah dan volume darah yang dibawa menuju insang.

4. Afinitas oksigen dari haemoglobin.

Singh (1997) menyatakan bahwa semakin tinggi temperatur maka semakin sedikit O2 terlarut dan bertambah besar konsumsi oksigen. Pengaruh temperatur ini terjadi karena kenaikan temperatur akan menaikkan metabolisme. Pada umumnya hewan poikiloterm metabolisme dipengaruhi oleh perubahan suhu lingkungan, pada suhu rendah metabolisme turun dan metabolisme akan meningkat pada suhu lingkungan yang meningkat. Menurut Gordon (1972), proses metabolisme dan reaksi-reaksi yang terjadi dalam tubuh perlu energi dimana energi tersebut didapat dari mengkonsumsi oksigen melalui proses respirasi.

Konsumsi O2 pada ikan Nila dapat diketahui dengan metode titrasi dengan cara Winkler. Metode ini digunakan untuk analisa O2 terlarut. Menurut Alaerts dan Santika (1987), tahapan metode Winkler adalah sebagai berikut:

1. Air sampel dimasukkan ke dalam botol Winkler 125 ml, dengan syarat pada pengambilan sampel tidak ada udara yang masuk.

2. Air dalam botol Winkler ditambah larutan MnSO4 sebanyak 0,5 ml dan larutan KOH/KI sebanyak 0,5 ml. Larutan dikocok kemudian dibiarkan sehingga terbentuk lapisan heterogen yaitu dibagian atas bening dan dibagian bawah berupa endapan berwarna coklat (apabila tidak mengandung oksigen endapan berwarna putih).

3. Air dalam botol Winkler direaksikan dengan H2SO4 sebanyak 0,5ml kemudian dikocok sehingga endapan di dalamnya menjadi larut dan terbentuk cairan kekuningan dibiarkan selama 10 menit.

4. Air dalam botol diambil 100 ml ditampung pada tabung Erlenmeyer dan ditambah amilum 11 tetes lalu dititrasi dengan Na2S2O3 0,025 N sehingga warna kuning yang berasal dari campuran awal menjadi bening.

5. Metode Winkler ini dilakukan dua kali untuk mendapatkan nilai rata-ratanya.

6. Rumus kandungan O2 terlarut:

Keterangan: p: jumlah ml larutan Na2S2O3 N yang dipakai untuk titrasi.

q: normalitas larutan Na2SO3

g: bobot setara O2

  

KESIMPULAN

 

Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Hasil pengukuran konsumsi oksigen pada ikan nila (Oreochomis sp.) dengan bobot 15,9 gr adalah 1,5993 mg/g/jam.

2. Konsumsi oksigen pada jenis ikan berbeda-beda. Adapun faktor yang mempengaruhi konsumsi oksigen adalah temperatur, ukuran tubuh, aktivitas yang dilakukannya, jenis kelamin, nutrisi dan usia.

3. Metode Winkler yang diperkenalkan oleh L.W.Winkler pada tahun 1988, dapat digunakan untuk mengukur oksigen terlarut.

 

DAFTAR REFERENSI

Alaerts, G dan S.S. Santika.1987. Metode Penelitian Air. Usaha Nasional, Surabaya.

Djuhanda, T.1981. Dunia Ikan. CV Amico, Bandung.

Gordon, M. 1977. Animal Phisiology: Principles and Adaptations. Third Edition Macmillan Publishing Co. Inc, New York.

Kimball, J.W.1992. Biologi Jilid 2. Erlangga, Jakarta.

Lagler, K. F. 1977. Icthyology. John Wiley and Sons Inc, Canada.

Mathur P. N, and Hurkat P. C. 1976. A Text Book of Animal Physiologi. Schand Co Ltd, New Delhi.

 Prosser, C.I dan Frank, A. B., Jr.1961. Comparative Animal Physiology. W. B. Saunders Company, London.

 Singh, B. N. 1977. Oxygen Consumption and The Amount of Oxygen Required for Transfort. Central Islan Fisheris Research Institute Barrapore West, Bergal.

 

 

 

 

PENGUKURAN HEMATOLOGI HEWAN

 

Oleh

Nama : Apriana Titik

NIM : B1J006145

Kelompok : 2

Rombongan : I

Asisten : Faizul

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2008

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel : Data perhitungan sel-sel darah (sel/mm3)

.Kelompok

Spesies

S Leukosit

(se/ml)

S Eritrosit (se/ml)

Kadar Hb

(gr/dl)

I

II

III

IV

V

VI

Ikan Nila

Ikan Nila

Ikan Nila

Ayam

Ayam

Ayam

31.800

10.150

166.400

167.200

165.875

70.475

4.250.000

3.650.000

3.630.000

1.880.000

2.225.000

1.735.000

6,5

6,3

6,2

7,0

8,3

8,0

Perhitungan :

Leukosit = L/64 x 160 x 10 = 25 L            Eritrosit            = E/80 x 4000 x 100 = 5000 E

= 25 x 406                        = 5000 x 730

= 10.150                        = 3.650.000

 

B. Pembahasan

Darah merupakan jaringan pengikat yang terdiri atas cairan, yang memiliki korpuskula yang tersuspensi dalam plasma. Plasma darah adalah adalah cairan yang komplek yang berada dalam keadaan keseimbangan dinamik dengan cairan tubuh lain. Plasma terdiri atas 90% air, 7-8% protein yang dapat larut, 1% elektrolit, dan sisanya 1-2% berbagai zat yang lain (Villee et al, 1988). Hewan vertebrata memiliki komposisi darah yang hampir sama. Darah terdiri dari cairan plasma kurang lebih 55% dan komponen seluler (sel darah) yang berada dalam plasma kurang lebih 45%. Sel-sel darah terdiri atas eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih), dan trombosit (Yuwono, 2001).

Metode pengukuran eritrosit, leukosit, dan kadar Hb. Cara menghitung eritrosit, dan leukosit sama kecuali larutan yang digunakan. Untuk pengukuran eritrosit digunakan larutan Hayem, untuk pengenceran eritrosit. Sedangkan untuk mengencerkan leukosit dengan menggunakan larutan Turk. Sebelum darah digunakan untuk percobaan, darah ditambah dengan larutan EDTA agar darah tidak mudah menggumpal. Pengukuran kadar Hb digunakan pengencer HCl atau akuades, besarnya kadar Hb dapat diukur dengan membandingkan larutan darah yang digunakan dengan larutan yang ada pada Haemometer.

Darah bagi organisme sangat penting, apabila terjadi kekurangan atau kelebihan sel darah maka mengakibatkan tidak normalnya proses fisiologis suatu organisme sehingga menimbulkan suatu penyakit (Pearse, 1989). Fungsi dari sel-sel darah menurut Yuwono (2001) antara lain :

1. Pengangkutan nutrien dari saluran pencernaan ke jaringan, ke dan dari organ-organ penyimpan (misalnya asam laktat dari otot ke hati), memungkinkan spesialisasi metabolik.

2. Pengangkutan produk ekskretori dari jaringan ke organ ekskretori, dari organ tempat sintesis (misalnya urea dalam hati) ke ginjal.

3. Pengangkutan gas (oksigen dan karbondioksida) antara organ respiratori dan jaringan; penyimpanan oksigen.

4. Pengangkutan hormon (misalnya adrenalin [respon cepat], hormon pertumbuhan [respon lambat]).

5. Pengangkutan sel fungsi nonrespiratori (contohnya leukosit vertebrata); darah serangga tidak memiliki fungsi respiratori, tetapi membawa sejumlah tipe sel-sel darah.

6. Pengangkutan panas dari organ-organ yang dibagian dalam ke permukaan untuk menghilangkan panas tersebut (esensil bagi hewan besar yang kecepatan metaboliknya tinggi).

7. Transmisi gaya tekanan (contohnya untuk lokomosi pada cacing tanah; untuk memecah cangkang pada waktu ganti kulit pada Crustaceae; untuk pergerakan organ seperti penis; sifon pada Bivalvia; penjuluran kaki pada laba-laba; untuk ultrafiltrasi dalam kapiler ginjal).

8. Kekebalan dan pertahanan tubuh dari serangan organisme penyebab penyakit dilakukan oleh leukosit.

9. Koagulasi, karakteristik inherent pada berbagai darah dan cairan hemolymph; berfungsi untuk proteksi terhadap kehilangan darah.

10. Pemeliharaan milieu interiur sesuai untuk sel-sel dalam kaitannya dengan pH, ion-ion, nutrien.

Berdasarkan hasil pengamatan, jumlah eritrosit dari sampel darah ikan adalah 27.000 sel/mm3 dan 1.615.000 sel/mm3, pada ayam jumlah eritrositnya adalah 460.000 sel/mm3 dan 675.000 sel/mm3. Jumlah sel eritrosit pada tiap-tiap spesies adalah berbeda satu sama lain (Legler, 1997). Hasil pengamatan yang diperoleh ada yang sesuai dengan pustaka dan ada yang tidak sesuai. Hal ini disebabkan oleh perbedaan umur, ukuran, dan jenis kelamin masing-masing spesies. Ikan yang aktif eritrositnya lebih kecil dari ikan yang tidak aktif, ukuran yang kecil memungkinkan jumlah eritrosit yang lebih banyak (Hadikastowo, 1982).

Jumlah leukosit pada ayam berkisar antara 16.000-40.000 sel/mm3 (Dukes, 1995), sedangkan pada sel darah ikan 20.000-150.000 sel/mm3 (Moyle and Cech, 2001). Menurut Hoffbrand (1987), jumlah leukosit pada mamalia adalah 4-11 ribu sel/mm3. Hasil pengamatan yang diperoleh tidak sesuai dengan pustaka. Hal ini disebabkan karena keterbatasan ketelitian penglihatan dalam menghitung jumlah leukosit dengan menggunakan alat haemocytometer. Besarnya jumlah leukosit selalu dipengaruhi oleh jumlah eritrosit, dimana jumlah leukosit selalu lebih rendah daripada jumlah eritosit (Bevelander dan Judith, 1979). Sebagian hasil pengamatan ternyata tidak sesuai dengan pernyataan tersebut. Hal ini disebabkan fluktuasi dalam jumlah leukosit pada tiap individu cukup besar pada kondisi tertentu, misalnya stress, aktifitas fisiologis, gizi, umur, dan lain-lain (Hadikastowo, 1982).

Jumlah eritrosit dalam darah burung beragam dari satu spesies ke spesies lain dan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu umur, kondisi lingkungan, habitat, iklim, jenis kelamin dan makanan yang dimakan. Jumlah leukosit yang dipengaruhi oleh faktor patologis yang terjadi di dalam tubuh dan akan meningkat bila terjadi infeksi yaitu pada saat sel leukosit diperlukan untuk memfagositosis benda –benda yang masuk ke dalam tubuh. Leukosit melindungi tubuh dengan menimbulkan peradangan di tempat yang terkena infeksi, memfagositosis mikroba, merusak toksin, dan memproduksi antibodi (Mitchell, 1956). Ukuran kecil memungkinkan jumlah eritrosit yang lebih banyak dalam ruangan tertentu. Jumlah eritrosit berhubungan dengan sedikit banyaknya oksigen yang harus diikatnya. Menurut Soetrisno (1989) jumlah leukosit juga dapat dipengaruhi oleh infeksi, kehamilan, keracunan bakteri, dan infeksi oleh virus.

Kadar haemoglobin dalam darah ikan berdasarkan pengukuran sebesar 6,4 g/dl dan 6 g/dl, pada ayam sebesar 3,2 g/dl dan 2,4 g/dl, sedangkan pada kelinci sebesar 4,3 g/dl dan 9,4 g/dl. Kadar haemoglobin ikan sedikit mendekati kadar haemoglobin pada ikan yang ditetapkan oleh Evans (1998), yaitu sebesar 7,9 g/dl. Kadar glukosa pada ikan yang dihitung saat praktikum diperoleh sebesar 204 mg/dl, sedangkan menurut Villee (1988), ambang renal glukosa adalah 150 mg/dl, sehingga angka yang diperoleh telah melebihi ambang renal. Kadar glukosa pada ayam adalah 82 mg/dl, sedangkan pada kelinci sebesar 37 mg/dl dan 43 mg/dl.

Untuk pemeriksaan hematologi tersebut, biasanya dipakai darah vena yang dicampur dengan antikoagulan, agar bahan darah tersebut tidak menggumpal. Antikoagulan yang sering dipakai antara lain garam EDTA seperti tripotassium EDTA (K3EDTA). Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa penggunaan garam EDTA yang berbeda dan atau konsentrasinya yang berbeda dapat menyebabkan perbedaan kuantitas maupun kualitas hasil pemeriksaan. Lamanya penundaan pemeriksaan juga dapat memberikan hasil yang berbeda untuk parameter tertentu (Diana,A.1998).

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Jumlah eritrosit pada ikan Nila dari kelompok 2 adalah 3.650.000 sel/mm3. Sedangkan jumlah leukosit Nila dari kelompok 2 sebesar 10.150 sel/mm3.

2. Faktor yang mempengaruhi jumlah eritrosit dan leukosit yaitu umur, jenis kelamin, spesies, iklim, kondisi lingkungan dan lain-lain.

3. Bentuk eritrosit pada vertebrata kecuali Mamalia adalah oval tidak berinti dan leukosit berinti dan bersifat motil.

 

 

DAFTAR REFERENSI

 

Aulia, diana. 1998. Pengaruh Lamanya Penyimpanan Darah dengan Antikoagulan Tripotassium Ethylene Diamine Tetraacetic Acid (K3Edta )dalam Tabung Vacuette terhadap Beberapa Parameter Hematologi. Perpustakaan pusat UI. Jakarta.

 

Beverlander, G. A. dan A. R. Judith. 1979. Dasar-dasar Histologi Edisi 8. Erlangga, Jakarta.

 

Dukes, H. H. 1995. The Phisiology of Domestic Animals. Constock Publishing Associates, New York.

Hadikastowo. 1982. Zoologi Umum. Alumni, Bandung.

 

Hoffbrand, A. V dan J. E. Pettit. 1987. Haematologi. Penerbit EGC, Jakarta.

Legler, K. F. 1997. The Study of Fishes. The University of Michigan Ann Arbor, Michigan.

Mitchell, P. H. 1956. General Physiology. Mc Graw Hill Book Co, New York.

 

Moyle, P. B and J. J. Cech. 2001. Fisher and Introduction to Ichtyology 4th. Prentice, Inc. London.

Oslon, C. 1973. Aulan Hematology in Riester HE and LH Schwarte. The Lowa State University Press, USA.

Pearse, E. C. 1989. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia, Jakarta.

Soetrisno, 1989. Diktat Fisiologi Ternak. Fakultas Peternakan UNSOED, Purwokerto.

 

Ville, C. A, Walker, W, and Barnes, R. D. 1988. Zoologi Umum Edisi 6. Penerbit Erlangga, jakarta.

 

Yuwono, E. 2001. Buku Ajar Fisiologi Hewan I. Fakultas Biologi UNSOED, Purwokerto.

 

 

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TUMBUHAN I

KARBOHIDRAT DALAM TANAMAN

Oleh:

Nama : Apriana Titik

NIM : B1J006145

Rombongan : V
Kelompok : 4

Asisten : Iis Istianah

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2008

 

Diposporilasi dengan ATP menjadi ADP glukosa kemudian menjadi pati dan ADPG, glukosa 1P diposporilasi dengan UTP menjadi UDP glukosa lalu menjadi amilum (Noogle dan Fritz,1989). Menurut Hopkins (1995), pembentukan karbohidrat terjadi pada tempat dimana cahaya menyinari bagian hijau karena bagian tersebut mengandung klorofil. Kehadiran karbohidrat dapat diketahui dari reaksi dari iodium-amilum. Amilum terdiri dari campuran amilosa dan amilopektin. Amilosa bereaksi dengan Iod (I) menghasilkan perubahan warna komplek merah ungu. Warna ini ditimbulkan oleh ikatan lemah diantara molekul pati/amilum dan Iod. Proses pembentukan amilum melalui fotosintesis adalah sebagai berikut : 

Transformasi karbohidrat itu dipengaruhi oleh beberapa faktor luar. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penyusunan amilum menurut Dwijoseputro (1994) diantaranya :

1. Temperatur

Temperatur yang rendah itu mempunyai pengaruh baik bagi pengubahan amilum menjadi gula. Pengubahan gula manjadi amilum terjadi pada temperatur sedang yaitu 200C sampai 300C.

2. Pengaruh air

Daun yang layu di dalamnya banyak terdapat amilum terubah menjadi gula sukrosa dan beberapa monosakarida. Persediaan air yang agak berlebihan menambah kegiatan penyusunan amilum.

3. Konsentrasi ion-ion H+

Perubahan pH membawa perubahan kegiatan enzim. Enzim akan bekerja berlawanan jika lingkungannya mengalami perubahan pH. Pada pH di atas 7 banyak terbentuk gula sedang gula akan terbentuk menjadi amilum lagi jika pH turun sampai di bawah 7.

4. Konsentrasi gula

Keseimbangan antara persediaan gula dan persediaan amilum terdapat di dalam sel. Pembentukan amilum itu tampak giat karena pembentukan gula yang yang giat. Pada malam hari sebagian dari amilum ada yang diubah menjadi gula sekedar untuk menjaga ketetapan konsentrasi.

5. Keadaan pH

6. Intensitas sinar

Hopkins (1995), menyatakan bahwa pembentukan karbohidrat terjadi pada tempat dimana cahaya menyinari bagian yang hijau karena bagian tersebut mangandung klorofil. Kahadiran karbohidrat dapat diketahui dari Iodin-Amilum. Bagian daun yang tertutup ketas alumunium foil dan dikenai sinar matahari, maka setelah dimasukkan dalam alkohol panas dan aquades panas, kemudian ditetesi larutan iodin, maka bagian tersebut tidak akan terbentuk warna ungu, tetapi bagian yang tidak ditutupi nampak berwarna ungu. Dwijoseputro (1986), menggambarakan hubungan antara amilum dan I-KI dalam reaksi berikut:

C5H8O4 + I – KI C5H8O4 + I5- + KI

Pembentukan pati terjadi melalui suatu proses yang melibatkan sumbangan berulang unit glukosa dari gula nukleotida serupa dengan UDPG yang disebut adenosin difosfoglukosa (ADPG). Pembentukan ADPG berlangsung dengan menggunakan ATP dan glukosa 1-p. Tentunya warna pada daun yang diuji seharusnya berwarna coklat iodin, sedangkan pada daun yang digunakan sebagai kontrol akan berwarna lebih gelap. Hal ini karena daun yang di beri perlakuan tidak menghasilkan amilum sehingga tidak menimbulkan warna ungu (Dwijosapoetro, 1994).

Amilum disusun di dalam kloroplas dan juga di dalam leukoplas sebagai tempat untuk menyimpan. Penyusunan amilum memerlukan bahan berupa glukosa-1-pospat serta bantuan enzim berupa posporilase amilum. Molekul glukosa-1-pospat dapat digandeng-gandengkan dengan pertolongan posporilase ini. Pada penggandengan itu terlepaslah molekul pospat (Dwidjoseputro, 1994).

Praktikum mengenai uji karbohidrat dalam tanaman digunakan daun bayam (Amaranthus spinosus) yang sebagian ditutup dengan alumunium foil untuk mencegah adanya sinar matahari yang mengenai klorofil agar tidak fotosintesis. Bagian yang tidak terkena sinar tidak akan menghasilkan amilum, sedangkan bagian yang tidak ditutup alumunium foil/daun kontrol akan menghasilkan amilum. Setelah daun dibiarkan selama beberapa jam di bawah terik matahari, kemudian daun direbus alkohol. Hal ini bertujuan untuk melarutkan klorofil yang ada pada daun, namun amilum yang ada tidak akan ikut larut karena amilum tidak dapat larut oleh alkohol. Ternyata daun berubah warna menjadi lebih transparan atau kekuningan. Dwijoseputro (1994) menyatakan bahwa setelah semua klorofil larut, semua bagian daun ditetesi I-KI maka, warna daun yang semula transparan akan berubah menjadi ungu gelap. Hal ini menandakan adanya amilum pada daun tersebut, karena reaksi iodium dalam amilum menimbulkan warna biru kehitam-hitaman. Sedangkan pada daun yang ditutup alumunium foil akan berwarna coklat. Namun dalam percobaan tidak dihasilkan warna ungu. Hal ini dikarenakan larutan IKI yang dipakai sudah tidak berfungsi.

Menurut Salisbury dan Ross (1992) pembentukan pati atau amilum terjadi terutama melalui satu proses yang melibatkan sumbangan berulang unit glukosa dari gula nukleotida serupa dengan UDPG yang disebut adenosin difosfoglukosa (ADPG). Pembentukan ADPG berlangsung dengan menggunakan ATP dan glukosa 1-fosfat di kloroplas dan plastid lainnya. Reaksi berikut merangkum pembentukan pati dari ADPG :

ADP + amilosa kecil (unit n-glukosa) → amilosa (lebih besar dengan unit n+1glukosa) + ADP.

Menurut Lakitan (2000) karbohidrat yang terbentuk pada tumbuhan dalam bentuk pati atau amilum. Pembentukan amilum pada umumnya berlangsung melalui proses yang sama secara berulang-ulang dengan menggunakan glukosa dari gula nukleosida yang mirip UDPG yang disebut sebagai Adenosin Difosfat (ADPG). Pembentukan ADPG berlangsung dalam kloroplas atau plastida lainnya menggunakan Atp dan glukosa-1-p :

(n-glukosa) amilosa → (n+1 glukosa) amilosa

ADPG → ADP

Pembentukan pati terjadi melaui suatu proses yang melibatkan sumbangan berulang unit glukosa dari gula nukleotida serupa dengan UDPG yang disebut adenosin difosfoglukosa, ADPG. Pembentukan ADPG berlangsung dengan menggunakan ATP dan glukosa-1-fosfat di kloroplas dan plastid. Molekul amilosa yang sedang tumbuh dengan unit glukosa yang mempunyai gugus reaksi C-4 pada ujungnya, bergabung dengan C-1 glukosa yang ditambahkan dari ADPG. Pati sintetase, yang mengkatalisis reaksi tersebut diaktifkan oleh K+. Cabang pada amilopektin antara C-6 pada rantai utama dan C-1 pada rantai cabang dibentuk oleh berbagai isoenzim dari beberapa enzim yang secara ringkas disebut enzim percabangan atau enzim Q. Tingkat cahaya yang tinggi dan siang hari yang panjang, menguntungkan fotosintesis dan translokasi karbohidrat. Sehingga menyebabkan penimbunan satu atau lebih butir pati di kloroplas dan penyimpanan pati di amiloplas. Pembentukan pati di kloroplas diuntungkan oleh cahaya terang, sebab enzim yang membentuk ADPG secara alosetrik diaktifkan oleh 3-PGA dan dihambat secara alosetrik Pi (Preiss). Kandungan 3-PGA agak meningkat saat terang sewaktu penambahan CO2 terjadi, tapi kandungan Pi agak turun karena ditambah ADP untuk membentuk ATP selama fosforilasi fotosintesis (Salisbury & Ross,1992).

Tanaman jika pada bulan-bulan yang dingin, konsentrasi gula tinggi sedangkan kadar amilum menyusut, bulan-bulan panas keadaan itu berkebalikan. Persediaan air yang berlabihan menambah kegiatan penyusunan amilum. Perubahan pH membawa perubahan kegiatan enzim. pH 7 merupakan pH optimal untuk pembentukan gula, sedang gula akan terbentuk menjadi amilum jika pH sampai dibawan 7 (Kimball, 1989).

Bahan-bahan yang digunakan untuk mengetahui adanya amilum dalam daun diantaranya alkohol, larutan I-KI, aquades. Alkohol berfungsi untuk melarutkan klorofil sedangkan larutan I-KI berfungsi sebagai indikator adanya amilum dan aquades berfungsi sebagai pencuci.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan mengenai praktikum karbohidrat dalam tanaman adalah sebagai berikut :

1. Daun bayam (Amaranthus sp.) kontrol positif terdapat amilum ditandai dengan terbentuknya warna ungu setelah ditetesi I-KI sedangkan pada daun bayam perlakuan bagian yang ditutup dengan aluminium foil tidak menghasilkan warna ungu setelah ditetesi I-KI berarti menandakan tidak terbentuknya amilum.

2. Pembentukan amilum dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu temperatur, pengaruh air, konsentrasi ion-ion H+, konsentrasi gula, keadaan pH dan intensitas sinar

 

 Daftar Pustaka

Dwidjoseputro, D. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta

Hopkins, W. B. 1995. Introduction to Plant Physiology. John Willey and Sons. Inc, New

York.

Kimball. 1989 .Biologi Jilid 2.Erlangga.Jakarta.

Lakitan, B. 2000. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. Penerbit ITB, Bandung

Salisbury, F.B dan C.W. Ross. 1992. Fisilogi Tumbuhan Jilid II. Penerbit ITB, Bandung

Salisbury, F. B.and C. W. Ross. 1985. Plant Physiology. Wadsworth Publishing Company, California.

 

 

  

 

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI TUMBUHAN I

AKTIVITAS NITRAT REDUKTASE

Oleh:

Nama : Apriana Titik

NIM : B1J006145

Rombongan : V
Kelompok : 4

Asisten : Iis Istianah

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS BIOLOGI

PURWOKERTO

2008

 

A. Pembahasan

Nitrat Reduktase (NR) merupakan enzim yang mengkatalis nitrat menjadi nitrit dan bersifat inducible karena aktivitasnya dapat ditingkatkan dengan penambahan substrat (Tjitrosoepomo, 1987). Tumbuhan memperoleh nitrogen dengan cara menyerap nitrat atau ion amonia yang ada dalam tanah, penyerapan kedua senyawa ion tersebut digunakan untuk membentuk berbagai senyawa nitrogen misalnya protein (Salisbury and Roos, 1995). Aktivitas nitrat reduktse dapat ditentukan dengan mengukur absorbansinya yaitu dengan menggunakan spektrofotometri. Sampel yang akan diukur direndam dalam buffer Na-fosfat selama 24 jam, kemudian larutan buffer diganti dengan yang baru dan ditambah dengan NaNO3 dengan molaritas masing-masing tabung reaksi yaitu 0 M; 0,5 M; dan 5 M kemudian diinkubasi selama 3 jam pada botol film gelap. Hasil perhitungan absorbansi sampel memperoleh angka aktivitas nitrat reduktase secara berurutan adalah 0; 0,26; dan 0,028 mol NO3/mg/menit.

Menurut Loveless (1990) aktivitas enzim nitrat reduktase pada daun tanaman dewasa berhubungan dengan hasil tanaman, sehingga tingkat aktivitas enzim nitrat reduktase dapat digunakan sebagai kriteria seleksi untuk memilih genotip dari suatu tanaman yang berdaya hasil tinggi. Enzim nitrat reduktase berguna untuk merubah nitrat menjadi nitrit yang kemudian setelah melalui serangkaian kerja enzim lain nitrit ini akan diubah menjadi asam amino. Alnopri (1995) manambahkan bahwa ANR banyak digunakan sebagai kriteria seleksi tanaman pada program pemuliaan tanaman. Pendekatan berdasarkan ANR sebagai kriteria seleksi dapat dipertimbangkan, karena enzim yang dikendalikan oleh gen yang secara langsung terlibat dalam proses biosintesis protein. NR merupakan enzim pertama yang berperan dalam mereduksi nitrat menjadi amonia.

Uji aktivitas nitrat reduktase ini menggunakan daun yang telah diinkubasi dan diberi larutan buffer, dan tempat yang digunakan untuk menaruh bahan adalah tabung gelap, dengan tujuan untuk menghalangi kerja enzim proses fotosintesis. Pada perlakuan pemberian NED dan SA pada sampel yang berisi 0 M; 0,5 M; 5 M praktikum ini adalah supaya tidak terbentuk pigmen warna, sehingga warna sampel tetap jernih. Larutan kemudian diukur absorbansinya setelah sebelumnya diberi aquadestilata dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 540 nm.

Penggunaan tabung gelap (botol film) pada praktikum ini karena pada daun hijau, nitrat reduktasenya dapat dipercepat dalam keadaan terang. Akan tetapi baik nitrat maupun CO2 dapat direduksi dalam reaksi gelap fotosintesis. Peran nitrat direduktasi oleh reaksi gelap dengan bantuan enzim NR hingga NR nitrit saja. Jika terkena sinar matahari, maka nitrat akan tereduksi sampai amonia. Sebagian besar tumbuhan tingkat tinggi mampu mereduksi nitrat sampai ke tahap ammonia (Anderton, 1996).

Reaksi pembentukan NO2- berlangsung dengan pereduksian nitrat menjadi nitrit dikatalis dengan enzim nitrat reduktase (NR). Cara kerja Enzim ini dengan mengikat 2 elektron dari NADH atau NADPH2 menghasilkan nitrit, NAD- dan H2O menurut reaksi :

NO3- + NADH + H + NR NO2- + NAD+ + H2O

Mekanisme kerja NR yaitu Nitrat Reduktase akan mereduksi NO3- menjadi NO2-, selanjutnya oleh nitrit reduktase akan direduksi menjadi Ammonium (NH4+). Amonia merupakan senyawa nitrogen utama yang dibebaskan dalam pembusukan asam organik. Amonia dalam tanah langsung dioksidasi menjadi nitrat oleh bakteri sehingga ion nitrat biasanya merupakan sumber nitrogen bagi tumbuhan. Ion nitrat setelah diserap harus direduksi kembali menjadi amonia (Loveless, 1991). Menurut Salisbury and Ross (1995) reaksi nitrat terjadi dalam dua tahap reaksi yang dikatalis oleh enzim yang berlainan. Reaksi pertama dikatalis oleh nitrat reduktase. Enzim NR yang mengangkut dua elektron dan NADPH, pada beberapa spesies dari NADPH, hasilnya berupa nitrit, NAD+ (NADP+) dan H2O. Reaksi kedua yaitu perubahan nitrat menjadi amonia (NH4) yang dikatalis oleh nitrit reduktase (NiR).

Menurut Gardener et.al (1991), aktivitas nitrat reduktase dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya :

1. Pengaruh pH

Jika suatu enzim menunjukkan kegiatan pada pH tertentu, maka jika pH turun atau naik akan mempengaruhi aktivitas enzim tersebut, oleh karena itu pada pengukuran aktivitas nitrat reduktase digunakan larutan buffer Na-fosfat untuk mengkonstankan atau menyeimbangkan pH nya. Masing-masing enzim juga mempunyai pH optimum yang berbeda-beda.

2. Pengaruh konsentrasi

Konsentrasi berbanding lurus dengan kegiatan enzim, selain itu konsentrasi zat juga berpengaruh pada kerja enzim.

3. Temperatur

Enzim tahan pada temperatur yang rendah 0ºC dan akan mati apabila temperatur diatas 50ºC.

4. Cahaya yang ditangkap oleh daun

Cahaya akan meningkatkan aktivitas nitrat reduktase dan peningkatan lebih nyata laju reduksi nitrat menjadi ammonium (Sallisbury and Ross, 1995).

5. Pengaruh zat penghambat (tannin dan fenol).

6. Umur tanaman

 

Kesimpulan

1. Aktivitas nitrat reduktase dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pH, Konsentrasi nitrat dan konsentrasi subtrat, temperatur, umur tanaman, Cahaya yang ditangkap dan zat penghambat.

2. Aktivitas Nitrat Reduktase yang diukur pada panjang gelombang 540 nm berturut-turut adalah 0 μ mol NO2/gr/jam, 0,26 μ mol NO2/gr/jam, 0,028 μ mol NO2/gr/jam dengan penambahan NaNO3 sebanyak 0 M; 0,5 M dan 5M.

 

Daftar pustaka

Anderton, J. D. 1996. Fondation of Chemestry, 2nd Edition. Addison Weskey Longman, Inc, Australia.

Gardener, F. P., R. B. Pearce dan R. L. Michell.1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press, Jakarta.

Harborne, J. B. 1987. Fitokimia, Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. ITB, Bandung.

Loveless, A. R. 1991. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Salisbury, F. B and C. W Ross. 1995. Plant Phisiology 2nd Edition. Mc-Graw Hill Company, New York.

Tjitrosoepomo, S. S. 1987. Botani umum. Angkasa, Bandung.

 

3 Komentar (+add yours?)

  1. rima
    Agu 15, 2008 @ 01:34:19

    makasih udah memuat tentang artikel nitrat reduktase, eh klo boleh saya minta tentang aktivitas nitrat reduktase secara penuh, kebutulan saya sedang mengerjakan tugas akhir
    tentang nitrat reduktase
    terima kasih buat bantuannya

    Balas

  2. Crerly
    Sep 16, 2008 @ 04:56:52

    Ada lg g?Mkalahx yg lengkp dong mzk cm pembhsnx doank,

    Balas

  3. Crerly
    Sep 16, 2008 @ 05:01:34

    Bgus bgt isix,from DEAR RETIRIFA

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.